Artikel

Kebiasaan Buruk di Akhir Pekan yang Sebaiknya Dihindari

01 Desember 2021
Kebiasaan Buruk di Akhir Pekan yang Sebaiknya Dihindari

Saat akhir pekan, kita bisa bebas melakukan apa saja yang kita inginkan. Walaupun begitu, ada beberapa kebiasaan buruk yang sebaiknya tidak kita lakukan saat akhir pekan. Apa saja kebiasaan buruk di akhir pekan yang sebaiknya dihindari? Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk tersebut.

Bermalas-malasan

Tidak ada larangan memang untuk bermalas-malasan di akhir pekan. Tapi ingat, sebaiknya jangan menghabiskan waktu satu hari di akhir pekan hanya untuk bermalas-malasan ya, Wong Coco Family!  Terlalu lama bermalas-malasan bisa membuatnya menjadi kebiasaan buruk dan berdampak pada kesuksesan. Selain itu, jika terlalu lama bermalas-malasan, saat hari Senin tiba, kita bisa menjadi kurang bersemangat untuk menjalani aktivitas.

Makan tidak sehat

Saat akhir pekan, biasanya kita akan lebih memilih memanjakan diri, dan salah satunya dengan mengonsumsi makanan enak tapi kurang sehat.  Wong Coco Family pasti sudah tahu bahwa mengonsumsi makanan kurang sehat akan berpengaruh pada kesehatan tubuh kita nantinya. Jadi, usahakan untuk tetap mengonsumsi makanan sehat saat akhir pekan ya, Wong Coco Family!

Terlalu lama menatap layar

Saat akhir pekan tidak sedikit yang menghabiskan waktu akhir pekan dengan nonton televisi, serial, bermain komputer, atau sekadar bermain ponsel. Padahal, akhir pekan bisa menjadi waktu yang tepat untuk berhenti menatap layar dan melakukan kegiatan lain selain kegiatan menatap layar.

Malas olahraga

Ketimbang bermalas-malasan dan menatap layar seharian, ada baiknya jika kita berolahraga. Akhir pekan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan berbagai macam olahraga yang diinginkan, seperti bersepeda atau sekedar jalan santai keliling lingkungan sekitar.

 

Itulah beberapa kebiasaan buruk di akhir pekan yang sebaiknya Wong Coco Family hindari. Semoga informasinya bermanfaat!

“Lihat Artikel Lainnya”

Kebaikan Serat Alami Ada di Segarnya Nata de Coco Sari Kelapa

Kebaikan Serat Alami Ada di Segarnya Nata de Coco Sari Kelapa

Wong Coco Family pasti sudah tahu bahwa nata de coco merupakan olahan air kelapa. Kandungan gula yang terkandung dalam air kelapa mengalami fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter Xylinum. Air kelapa sendiri diketahui mengandung mineral dan vitamin yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Lalu, apakah kandungan gizi nata de coco sebanyak kandungan gizi air kelapa? Kandungan Gizi Nata de Coco Berdasarkan studi yang dilakukan Puslitbang Biologi LIPI, kandungan gizi nata de coco per 100 gram nata diketahui mengandung 80% air, 20 gram karbohidrat, 146 kal kalori, 20 gram lemak, 12 mg Kalsium, 2 mg Fosfor dan 0,5 mg Ferrum (besi). Sedangkan kandungan gizi 100 gram nata de coco yang dikonsumsi dengan pemanis atau sirup adalah 67,7% air, 12 mg Kalsium, 0,2% lemak, 2 mg Fosfor (jumlah yang sama untuk vitamin B1 dan Protein), 5 mg zat besi dan 0,01 ng (mikrogram) Riboflavin. Baik untuk Program Diet Nata de coco baik untuk dikonsumsi oleh mereka yang sedang menjalani diet rendah kalori karena kandungan kalorinya cukup rendah. Selain itu, nata de coco juga bermanfaat untuk melancarkan pencernaan. Karena itulah, jika Wong Coco Family mengalami sembelit atau konstipasi, bisa mengonsumsi nata de coco untuk membantu mengatasinya. Serat nata de coco diketahui terdiri dari dua jenis, yaitu: 1. Serat larut air Serat ini berfungsi mengikat kadar air, menyerap karbohidrat dan melambatkan proses penyerapan glukosa. 2. Serat tidak larut air Serat ini berfungsi melancarkan saluran cerna. Itulah penjelasan singkat tentang kandungan gizi yang ada pada nata de coco. Agar kita bisa mendapatkan manfaat maksimal dari kandungan gizi yang terdapat dalam nata de coco, sangat disarankan untuk tidak menambah pemanis buatan. Salah satu produk Nata de Coco yang dibuat dengan gula asli dan tanpa pemanis buatan adalah Wong Coco Nata de Coco. Jadi, saat Wong Coco Family ingin menambahkan Nata de coco dalam minuman atau sajian lainnya, selalu pilih Wong Coco Nata de Coco!

 03 September 2020
Terbiasa Makan Sayuran Mentah, Berbahayakah?

Terbiasa Makan Sayuran Mentah, Berbahayakah?

Sayur mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh kita. Nah, karena alasan tidak ingin kehilangan nutrisi yang terkandung dalam sayur, ada orang-orang yang langsung mengonsumsi sayur dalam keadaan mentah atau tanpa proses pemasakan.   Apakah kebiasaan tersebut tidak berbahaya?    Dilansir dari laman situs detikHealth, Dr dr Samuel Oetoro MS SpGK(K) mengatakan bahwa mengonsumsi sayur dalam keadaan mentah memang baik agar kandungan nutrisi pada sayur tidak terbuang seperti pada sayur yang melalui proses pemasakan.   Tapi dr Samuel mengingatkan kita semua untuk tidak terus-menerus mengonsumsi sayuran mentah. Kenapa? Karena menurut dr Samuel, terlalu sering makan sayuran mentah juga bisa berisiko bagi kesehatan tubuh yang salah satunya adalah melemahkan enzim pencernaan. Hal ini bisa terjadi karena proses kerja saluran cerna yang berat dalam mencerna sayur mentah. Efeknya bisa berujung pada defisiensi terhadap enzim B12. Karena itulah, dr Samuel menyarankan untuk selalu mengonsumsi makanan dengan seimbang.    Setelah menyimak penjelasan dari Dr dr Samuel Oetoro MS SpGK(K), bisa kita simpulkan bahwa mengonsumsi sayuran mentah memang bermanfaat, tapi sebaiknya tidak berlebihan agar kesehatan sistem pencernaan kita terjaga. Selain itu, jangan lupa juga untuk mencucinya sampai benar-benar bersih saat ingin mengonsumsi sayuran mentah, ya! Semoga informasi ini bermanfaat dan jika Wong Coco Family ingin mengetahui informasi lebih lengkap tentang hal ini bisa berkonsultasi langsung dengan ahli medis atau ahli gizi.  

 15 Juli 2020
Selain Corona, DBD Juga Patut Diwaspadai

Selain Corona, DBD Juga Patut Diwaspadai

Virus corona yang sudah merebak di negara kita saat ini membuat permintaan masker, hand sanitizer dan bahan pembuat jamu yang berkhasiat meningkatkan imun tubuh seperti jahe dan kunyit sulit dicari dan mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan. Waspada terhadap virus corona memang wajib kita lakukan, tapi tidak lantas membuat kita menjadi panik berlebih dengan melakukan panic buying dan lupa bahwa selain virus corona ada satu lagi ancaman kesehatan lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu demam berdarah. Menurut catatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, jumlah kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di negara kita terjadi sebanyak 110.921 kasus sejak Januari sampai 31 Oktober 2019. Sangat banyak bukan? Apa saja gejala umum dari demam berdarah? Demam tinggi hingga 40° Celsius. Nyeri pada kepala, sendi, bagian mata belakang dan otot sampai tulang. Mual dan muntah yang akhirnya menyebabkan nafsu makan menurun. Adanya pembengkakan kelenjar getah bening. Tampak ruam merah di kulit sekitar 2-5 hari setelah demam. Pendarahan dari hidung, gusi dan di bawah kulit. Diagnosis awal yang dilakukan oleh para dokter untuk mengetahui kasus demam berdarah umumnya dilakukan melalui konsultasi tentang keluhan medis dan pemeriksaan fisik yang salah satunya adalah pengecekan darah. Jika hasil pengecekan darah seorang pasien menunjukkan penurunan trombosit dalam darah sebanyak (< 100.000/mm3) yang disertai oleh peningkatan hematokrit 20% dari jumlah normal, maka bisa dinyatakan ia positif terkena demam berdarah. Dalam kondisi ini, penanganan yang cepat dari petugas medis sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya penurunan kondisi fisik yang semakin parah yang mungkin saja bisa berujung pada kematian. Cara Mencegah Demam Berdarah Rutin menguras dan menutup rapat tempat penampungan air, mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Memasang jaring nyamuk pada ventilasi udara supaya nyamuk tidak bisa masuk ke dalam rumah. Tidak menggantung pakaian kotor di dalam rumah karena bisa menjadi tempat nyamuk bersembunyi. Rutin berolahraga dan menjaga imunitas tubuh akan mengurangi resiko terserang virus dan penyakit. Itulah penjelasan singkat tentang demam berdarah yang juga harus kita waspadai bersama selain virus corona. Semoga bermanfaat dan ingat, selalu jaga kebersihan dan juga imun tubuh supaya berbagai penyakit tidak mudah menyerang.

 24 Maret 2020