Artikel

Stop Lakukan Kebiasaan Buruk Ini Saat Keluar Rumah Selama Pandemi!

09 Juli 2021
Stop Lakukan Kebiasaan Buruk Ini Saat Keluar Rumah Selama Pandemi!

Pandemi yang sampai saat ini masih saja berlangsung mengharuskan kita semua untuk taat protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Namun sayangnya, masih saja ada yang menyepelekannya dengan melakukan beberapa kebiasaan buruk yang menyebabkan resiko penularan virus Covid-19 menjadi menjadi lebih tinggi dan pandemi sulit untuk diakhiri.

 

Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk yang harus kita hentikan saat keluar rumah di masa pandemi ini.

  1. Keluar tanpa masker

Sangat penting untuk selalu memakai masker wajah setiap kali kita beraktivitas keluar rumah. Dengan mengenakan masker, tidak hanya bisa melindungi diri kita sendiri, tapi juga melindungi orang lain dari resiko tertular. Jangan lupa juga untuk selalu membawa cairan pembersih tangan atau hand sanitizer saat keluar rumah.

  1. Menganggap pandemi corona sudah hilang atau tidak berbahaya

Ada beberapa orang yang mungkin lupa atau menganggap remeh virus corona karena beberapa waktu yang lalu pembatasan seperti PSBB atau lockdown sudah dicabut. Padahal itu tidak berarti bahwa pandemi corona sudah berakhir dan tidak lagi menjadi ancaman. Akibatnya, saat ini kasus terinfeksi kembali naik cukup signifikan di tanah air.

  1. Kumpul-kumpul tanpa mematuhi protokol kesehatan

Kegiatan kumpul-kumpul dengan tetap mematuhi protokol kesehatan saat pembatasan dicabut memang sudah bisa dilakukan. Sayangnya, karena tidak sedikit yang melakukan aktivitas kumpul-kumpul tanpa mematuhi protokol kesehatan, kasus terinfeksi kembali naik dan akhirnya pemerintah tidak lagi memperbolehkan kegiatan ini dan menetapkan PPKM darurat untuk menekan penularan virus Covid-19.

 

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang harus kita hentikan saat keluar rumah di masa pandemi ini. Semoga informasinya bermanfaat dan ingat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan agar pandemi ini bisa segera diakhiri!

“Lihat Artikel Lainnya”

Selain Corona, DBD Juga Patut Diwaspadai

Selain Corona, DBD Juga Patut Diwaspadai

Virus corona yang sudah merebak di negara kita saat ini membuat permintaan masker, hand sanitizer dan bahan pembuat jamu yang berkhasiat meningkatkan imun tubuh seperti jahe dan kunyit sulit dicari dan mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan. Waspada terhadap virus corona memang wajib kita lakukan, tapi tidak lantas membuat kita menjadi panik berlebih dengan melakukan panic buying dan lupa bahwa selain virus corona ada satu lagi ancaman kesehatan lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu demam berdarah. Menurut catatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, jumlah kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di negara kita terjadi sebanyak 110.921 kasus sejak Januari sampai 31 Oktober 2019. Sangat banyak bukan? Apa saja gejala umum dari demam berdarah? Demam tinggi hingga 40° Celsius. Nyeri pada kepala, sendi, bagian mata belakang dan otot sampai tulang. Mual dan muntah yang akhirnya menyebabkan nafsu makan menurun. Adanya pembengkakan kelenjar getah bening. Tampak ruam merah di kulit sekitar 2-5 hari setelah demam. Pendarahan dari hidung, gusi dan di bawah kulit. Diagnosis awal yang dilakukan oleh para dokter untuk mengetahui kasus demam berdarah umumnya dilakukan melalui konsultasi tentang keluhan medis dan pemeriksaan fisik yang salah satunya adalah pengecekan darah. Jika hasil pengecekan darah seorang pasien menunjukkan penurunan trombosit dalam darah sebanyak (< 100.000/mm3) yang disertai oleh peningkatan hematokrit 20% dari jumlah normal, maka bisa dinyatakan ia positif terkena demam berdarah. Dalam kondisi ini, penanganan yang cepat dari petugas medis sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya penurunan kondisi fisik yang semakin parah yang mungkin saja bisa berujung pada kematian. Cara Mencegah Demam Berdarah Rutin menguras dan menutup rapat tempat penampungan air, mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Memasang jaring nyamuk pada ventilasi udara supaya nyamuk tidak bisa masuk ke dalam rumah. Tidak menggantung pakaian kotor di dalam rumah karena bisa menjadi tempat nyamuk bersembunyi. Rutin berolahraga dan menjaga imunitas tubuh akan mengurangi resiko terserang virus dan penyakit. Itulah penjelasan singkat tentang demam berdarah yang juga harus kita waspadai bersama selain virus corona. Semoga bermanfaat dan ingat, selalu jaga kebersihan dan juga imun tubuh supaya berbagai penyakit tidak mudah menyerang.

 24 Maret 2020
Terbiasa Makan Sayuran Mentah, Berbahayakah?

Terbiasa Makan Sayuran Mentah, Berbahayakah?

Sayur mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh kita. Nah, karena alasan tidak ingin kehilangan nutrisi yang terkandung dalam sayur, ada orang-orang yang langsung mengonsumsi sayur dalam keadaan mentah atau tanpa proses pemasakan.   Apakah kebiasaan tersebut tidak berbahaya?    Dilansir dari laman situs detikHealth, Dr dr Samuel Oetoro MS SpGK(K) mengatakan bahwa mengonsumsi sayur dalam keadaan mentah memang baik agar kandungan nutrisi pada sayur tidak terbuang seperti pada sayur yang melalui proses pemasakan.   Tapi dr Samuel mengingatkan kita semua untuk tidak terus-menerus mengonsumsi sayuran mentah. Kenapa? Karena menurut dr Samuel, terlalu sering makan sayuran mentah juga bisa berisiko bagi kesehatan tubuh yang salah satunya adalah melemahkan enzim pencernaan. Hal ini bisa terjadi karena proses kerja saluran cerna yang berat dalam mencerna sayur mentah. Efeknya bisa berujung pada defisiensi terhadap enzim B12. Karena itulah, dr Samuel menyarankan untuk selalu mengonsumsi makanan dengan seimbang.    Setelah menyimak penjelasan dari Dr dr Samuel Oetoro MS SpGK(K), bisa kita simpulkan bahwa mengonsumsi sayuran mentah memang bermanfaat, tapi sebaiknya tidak berlebihan agar kesehatan sistem pencernaan kita terjaga. Selain itu, jangan lupa juga untuk mencucinya sampai benar-benar bersih saat ingin mengonsumsi sayuran mentah, ya! Semoga informasi ini bermanfaat dan jika Wong Coco Family ingin mengetahui informasi lebih lengkap tentang hal ini bisa berkonsultasi langsung dengan ahli medis atau ahli gizi.  

 15 Juli 2020