Artikel

New Normal, Beradaptasi dengan Kondisi Baru Ketimbang Terus Meratapi

Mungkin tidak sedikit dari kita yang merasa khawatir memasuki era New Normal yang akan dijalani dalam beberapa fase mulai bulan Juni ini. Kekhawatiran ini cukup wajar karena masa New Normal ini sudah mulai dijalankan padahal pandemi Covid-19 belum berakhir. Agar lebih mengerti, mari simak penjelasan berikut ini. Dilansir dari laman situs fimela.com, seperti ditulis Urban Dictionary, New Normal merupakan keadaan dimana beberapa perubahan dramatis sudah terjadi karena suatu kejadian. Dan karena kejadian tersebut membuat kita semua harus mampu beradaptasi dengan situasi ketimbang terus meratapi apa yang terjadi. Jika dilihat dalam konteks New Normal saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, pemerintah Indonesia yang sebelumnya memberlakukan masa karantina di rumah ingin merubahnya menuju fase New Normal agar warga bisa berkegiatan dengan normal seperti sedia kala. Ini dilakukan karena melihat kenyataan bahwa pandemi Covid-19 diprediksi oleh banyak ahli kesehatan dunia masih akan cukup lama berlangsung, sedangkan kegiatan ekonomi di negara kita harus segera kembali ke sedia kala. Jika New Normal tidak segera diberlakukan, ekonomi akan terganggu dan efeknya akan sangat besar. Apa efeknya? Akan lebih banyak lagi pekerja yang terkena PHK karena banyak perusahaan yang harus ditutup karena kegiatan ekonomi tidak berjalan dengan normal. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Nah, sebagai warga negara kita harus berusaha untuk beradaptasi dengan masa New Normal.  Rasa khawatir memang wajar tapi usahakan untuk tetap tenang dan berkegiatan seperti biasa dengan tetap menjalani protokol kesehatan yang berlaku sebelumnya. Selain itu, negara yang ingin menjalani fase juga sebelumnya harus mengikuti beberapa ketentuan yang disyaratkan oleh badan kesehatan dunia, WHO berikut ini. Memiliki bukti penularan Covid-19 di wilayahnya sudah bisa dikendalikan. Sistem kesehatan mulai dari rumah sakit sampai peralatan medis mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Resiko wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan tinggi, terutama untuk rumah lansia, fasilitas kesehatan mental, serta kawasan pemukiman padat. Resiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus dikendalikan Warga harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat, dan dilibatkan dalam proses masa transisi fase New Normal versi WHO ini. Itulah beberapa ketentuan yang disyaratkan oleh badan kesehatan dunia, WHO. Kalau suatu negara memang belum memenuhi kriteria di atas, fase New Normal sudah pasti tidak akan mendapat izin dari WHO. Semoga informasi ini bermanfaat!  

 10 Juni 2020

Hindari 5 Kebiasaan Ini agar Imun Tubuh Tidak Menurun Saat New Normal

Walaupun di bulan Juni kita sudah mulai bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala, kita harus tetap mematuhi berbagai macam protokol kesehatan COVID-19 karena kita akan memasuki era New Normal atau kenormalan baru. Tidak hanya tetap menerapkan protokol kesehatan, menjaga daya tahan tubuh juga tetap harus kita lakukan agar tidak mudah tertular virus Corona. Namun, seringkali tanpa disadari ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan bisa membuat kekebalan tubuh jadi menurun dan berikut adalah beberapa kebiasaan tersebut. 1. Tidak cukup tidur Kelelahan karena kurang tidur bisa menyebabkan turunnya daya tahan tubuh seseorang dan karena itulah usahakan tidur selama 7 sampai 9 jam tiap malam. 2. Sering stres Sering stres juga merupakan kebiasaan sehari-hari yang bisa membuat daya tahan tubuh menurun. Stres bisa menyebabkan sel pembunuh bakteri bekerja menjadi lebih lambat dan aktivitas makrofag (sel yang memperkuat respons imun) berkurang. 3. Kurang olahraga Kurangnya olahraga sudah pasti bisa menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Padahal, olahraga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Waktu untuk berolahraga pun tidak perlu lama karena cukup sekitar 30 menit berolahraga, daya tahan tubuh kita akan tetap terjaga. 4. Terlalu serius Terlalu serius saat beraktivitas juga bisa menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Cobalah lebih santai dalam beraktivitas seperti sesekali bercengkrama, dan bercanda bersama teman-teman kantor. Ingat, tertawa terbukti mampu mengurangi hormon stres dan juga meningkatkan daya tahan tubuh. Semoga informasi ini bermanfaat dan ingat untuk selalu menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan diri selama masa New Normal ya, Wong Coco Family!

 09 Juni 2020

Panduan Hadapi New Normal untuk Pekerja Kantoran

Kantor yang merupakan salah satu sentral perekonomian masyarakat harus diakui memiliki resiko penyebaran virus yang tinggi. Hal ini karena banyak pekerja yang berkumpul di satu tempat dalam jumlah yang banyak. Namun karena roda perekonomian harus tetap berjalan, kegiatan di perkantoran pun harus terus dijalankan di masa New Normal dengan tetap mewaspadai pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih terjadi. Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan, Sabtu (23/5/2020), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan, "Untuk itu pasca-pemberlakuan PSBB dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, perlu dilakukan upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau New Normal." Untuk mendukung new normal di wilayah perkantoran dan industri, Kementerian Kesehatan RI sudah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Berikut adalah panduan tersebut. Pihak manajemen agar senantiasa memantau dan memperbaharui perkembangan informasi tentang COVID19 di wilayahnya. (Secara berkala dapat diakses di http://infeksiemerging.kemkes.go.id. dan kebijakan Pemerintah Daerah setempat). Pembentukan Tim Penanganan COVID-19 di tempat kerja yang terdiri dari Pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan petugas Kesehatan yang diperkuat dengan Surat Keputusan dari Pimpinan Tempat Kerja. Pimpinan atau pemberi kerja memberikan kebijakan dan prosedur untuk pekerja melaporkan setiap ada kasus dicurigai COVID-19 (gejala demam atau batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau sesak nafas) untuk dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan. Tidak memperlakukan kasus positif sebagai suatu stigma. Pengaturan bekerja dari rumah (work from home). Menentukan pekerja esensial yang perlu tetap bekerja atau datang ke tempat kerja dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan dari rumah. Untuk pekerja esensial yang harus tetap bekerja selama PSBB berlangsung, berikut adalah panduannya. Di pintu masuk tempat kerja lakukan pengukuran suhu dengan menggunakan thermogun, dan sebelum masuk kerja terapkan Self-Assessment Risiko COVID-19 untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit COVID-19. Pengaturan waktu kerja tidak terlalu panjang (lembur) yang akan mengakibatkan pekerja kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan atau imunitas tubuh. Untuk pekerja shift: Jika memungkinkan tiadakan shift 3 (waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari) Bagi pekerja shift 3 atur agar yang bekerja terutama pekerja berusia kurang dari 50 tahun. Mewajibkan pekerja menggunakan masker sejak perjalanan dari atau ke rumah, dan selama di tempat kerja. Mengatur asupan nutrisi makanan yang diberikan oleh tempat kerja, pilih buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti jeruk, jambu, dan sebagainya untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh. Jika memungkinkan pekerja dapat diberikan suplemen vitamin C. Memfasilitasi tempat kerja yang aman dan sehat. Itulah Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Semoga informasinya bermanfaat dan ingat untuk tetap menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh ya Wong Coco Family, agar tidak mudah terinfeksi virus dan bakteri penyebab penyakit, termasuk Covid-19!

 08 Juni 2020

Si Kecil Bosan Di Rumah? Cobain Aktivitas Ini Yuk!

Rasa bosan karena harus selalu berada di rumah selama pandemi mungkin menyebabkan anak-anak menjadi rewel dan merengek-rengek untuk minta keluar. JIka sudah seperti ini, para orang tua harus menemukan cara yang tepat agar anak betah untuk tetap berada di rumah. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Wong Coco Family coba lakukan untuk mengusir rasa bosan karena harus tetap di rumah akibat pandemi COVID-19. 1. Menciptakan karya seni Menciptakan karya seni melalui menggambar dan mewarnai bersama anak bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan agar anak tidak bosan. Tidak hanya bisa mengajarinya untuk berkreasi dengan warna dan bentuk, menggambar dan mewarnai juga akan membantu membangun rasa percaya diri , melatih imajinasinya, dan membuat akan merasa gembira. 2. Berkebun Pekarangan rumah bisa kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan berkebun bersama anak. Kalau tidak ada pekarangan, Wong Coco Family bisa mengajak anak menanam tanaman di pot. Dengan berkebun, ia akan bisa belajar untuk bertanggung jawab, mencintai lingkungan dan alam, dan lebih mengenal tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. 3. Menonton film kesukaannya Mengajak menonton film kesukaan anak juga bisa menjadi solusi supaya anak tidak merasa bosan karena harus selalu di rumah. Pilih film-film yang memang ia suka atau bisa juga film-film yang Wong Coco Family anggap baik untuk perkembangannya. Nah, itu contoh kegiatan dirumah yang Wong Coco Family dapat lakukan bersama si kecil dirumah. Supaya aktivitas semakin menyenangkan, siapkan juga cemilan yang membuatnya semakin ceria. Salah satu pilihan cemilan yang bisa disajikan adalah MyJelly. Produk Jelly dalam cup bentuk bintang ini dibuat dengan Nata de Coco untuk melengkapi cita rasanya. Dipadukan dengan perisa buah-buahan seperti anggur, leci, melon, jeruk dan stroberi dengan gula asli tanpa pemanis buatan dan tanpa bahan pengawet, anak-anak pasti suka dengan rasanya yang enak dan bervariasi.

 08 Juni 2020

Tips Mengurangi Nafsu Makan yang Berlebih

Banyak ngemil atau makan berlebihan, jika sesekali memang tidak berbahaya untuk kesehatan. Tapi, kalau kondisi ini berlangsung terus menerus dan tidak dikendalikan dampaknya bisa cukup serius. Dilansir dari laman situs kompas.com, tidak hanya berisiko mengalami obesitas, mereka yang nafsu makannya berlebih rentan mengidap penyakit diabetes tipe 2, penyakit jantung dan pembuluh darah dan sindrom metabolik. Berikut adalah beberapa tips mengurangi nafsu makan yang berlebih. 1. Fokus ketika makan Tidak sedikit orang makan sambil mengerjakan hal lain. Kondisi ini bisa menyebabkan otak tidak mengingat informasi seberapa banyak asupan yang sudah dimakan, sehingga akan lebih sulit mengontrol rasa kenyang dan lapar. Karena itu, coba untuk menikmati makanan dengan fokus agar kita tidak makan berlebihan. 2. Kurangi gula dan garam Gula dan garam adalah dua bahan yang ditambahkan dalam makanan yang fungsinya sebagai penambah nafsu makan. Karena itu, agar kita tidak makan berlebihan, coba untuk makan dengan gula dan garam secukupnya saja. 3. Cari kegiatan menyenangkan lain selain makanan Nafsu makan berlebih juga bisa dipengaruhi karena kita sedang dalam kondisi bosan, cemas, stres atau marah. Solusinya, coba cari kegiatan yang menyenangkan untuk mengatasi naik turunnya emosi, seperti jalan-jalan ringan, bermeditasi, ngobrol dengan teman, menulis, atau sekedar mendengarkan musik. Selamat mencoba beberapa cara mengurangi nafsu makan yang berlebihan di atas. Jika belum berhasil, tidak ada salahnya untuk konsultasikan langsung ke dokter untuk mencari solusi yang lebih tepat sesuai kondisi kesehatan Wong Coco Family.

 07 Juni 2020

Mau Perut Tetap Ramping? Makan Puding Sebelum Makan!

Selama ini saat sedang menjalani program diet, kita sering disarankan untuk menghindari mengonsumsi makanan makanan manis. Kenapa? Karena makanan ini dianggap mampu menambah timbunan lemak dan kalori di dalam tubuh yang akan membuat tubuh bisa semakin gemuk. Tapi, sebuah penelitian yang dilansir dari laman situs dailymail.co.uk mengungkapkan fakta diet yang cukup mengejutkan. Penelitian yang dilakukan oleh Dr James Gardiner dari Imperial College London itu menemukan bahwa makanan manis ternyata terbukti bisa membantu menurunkan berat badan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa protein otak yang disebut dengan glukokinase mampu melihat seberapa banyak glukosa atau zat gula yang kita konsumsi. Kalau asupan zat gula ini terlalu rendah, maka otak akan memberitahukan tubuh untuk mengonsumsi lebih banyak lagi makanan bertepung dan makanan manis. Hal ini bisa berakibat kita akan cenderung untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak. Itulah yang menyebabkan Dr James Gardiner menyarankan kita untuk makan makanan manis terlebih dahulu seperti puding, sebelum makan besar agar bisa memenuhi kebutuhan gula tubuh. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan mengandung gula pada menu makanan utama tidak akan efektif. Apa penyebabnya? Karena gula akan diolah lebih lama dan pesan glukosa ini akan masuk ke dalam otak lebih lama. Jadi, cobalah makan puding terlebih dahulu sebelum makan makanan utama agar perut dan bagian tubuh lain bisa ramping. Nah, untuk menikmati puding dengan cara yang praktis, Wong Coco Pudding bisa menjadi salah satu pilihan. Produk pudding persembahan Wong Coco ini dibuat dengan paduan Purée buah asli dengan susu tanpa lemak dan Nata de Coco di dalam Wong Coco Pudding, sehingga cocok untuk menjadi makanan pembuka atau cemilan keluarga.

 07 Juni 2020

Project Film yang Harus Ditunda Karena Pandemi Covid-19

Pandemi virus corona yang dialami oleh hampir seluruh negara di dunia menyebabkan tertundanya banyak kegiatan dan salah satunya adalah pembuatan dan penayangan film. Berikut adalah beberapa film yang sebenarnya sudah sangat dinantikan oleh para pecinta film dunia tapi sayangnya harus tertunda, baik itu proses produksinya maupun jadwal tayangnya. 1. Fantastic Beast 3 Film tersebut sebenarnya dijadwalkan sudah mulai proses syuting pada tanggal 16 Maret 2020. Tapi karena terjadi pandemi, sampai saat ini belum ada informasi kapan produksi film ini bisa segera dimulai. "Fantastic Beasts 3" yang kembali disutradarai oleh David Yates, rencananya akan dibintangi oleh Eddie Redmayne, Katherine Paterson, Zoe Kravitz dan Dan Folger. 2. King Richard Film ini dibintangi oleh aktor Hollywood ternama, Will Smith dan dua ikon tenis wanita dunia, Serena dan Venus Williams. Awalnya syuting "King Richard" harus ditunda lantaran cuaca buruk di Los Angeles. Tapi akhirnya produksi ini terpaksa ditunda untuk mencegah penyebaran virus corona. Film yang rencana awalnya akan tayang pada akhir pekan Thanksgiving 2020 ini sampai saat ini belum juga mulai proses produksinya. 3. James Bond: No Time to Die Film yang akan kembali dibintangi oleh Daniel Craig ini seharusnya sudah tayang di bulan April 2020. Tetapi akibat pandemi virus corona, No Time to Die memundurkan jadwal penayangannya dari April ke November 2020. 4. F9 (sekuel Fast & Furious ke-9) Wabah virus corona yang terjadi saat ini akhirnya memaksa Universal (perusahaan yang memproduksi film tersebut) mengundur jadwal rilis F9, fllm ke-9 Fast & Furious, dari yang sebelumnya Mei 2020 menjadi 2 April 2021. 5. Yowis Ben 3 Tidak hanya film Hollywood, film Indonesia juga harus tertunda karena pandemi virus corona dan salah satunya adalah Yowis Ben 3. Melalui akun Twitter pribadinya, sutradara Fajar Nugros mengumumkan soal penghentian aktivitas syuting untuk film terbarunya Yowis Ben 3, sampai waktu yang belum ditentukan. 6. Djoerig Salawe Film Indonesia lain, Djoerig Salawe, sebenanarnya sudah siap tayang pada sekitar bulan Maret 2020, tapi rumah produksi MBK Pictures menunda jadwal gala premiere film Djoerig Salawe. MBK Pictures mengatakan penundaan tersebut untuk mematuhi imbauan pemerintah untuk tidak menggelar acara yang melibatkan massa di tengah wabah virus corona. Selain film-film yang disebutkan di atas, masih banyak lagi film-film lain yang harus tertunda proses produksi maupun penayangannya karena pandemi virus corona. Semoga pandemi virus corona ini segera berakhir agar seluruh kegiatan, termasuk produksi dan penayangan film, bisa berjalan seperti sedia kala.

 07 Juni 2020

Berhenti Pakai Make Up? Ini yang Terjadi Pada Otak Kita

Kebiasaan memakai make up yang dilakuan oleh mayoritas para wanita di dunia ini ternyata juga direkam oleh otak. Karena itu, tidak heran ketika kita berhenti memakai make up, otak juga akan bereaksi pada perubahan kebiasaan ini. Menurut Jennifer Pepper, psikoterapis asal Amerika Serikat, ketika memakai make up, secara tidak sadar kita akan mengirimkan pesan ke otak bahwa ada kekurangan di wajah yang harus ditutupi dengan make up. Sehingga, kita akan merasa bahagia dengan adanya perubahan pada wajah karena make up dan membuat make up sebagai bagian dari identitas diri. Karena itu, saat kita berhenti memakai make up, otak seakan merasa ada sesuatu yang terlewati dalam rutinitas sehari-hari. Sinyal ini bisa berakibat pada munculnya perasaan kurang percaya diri. Terapis bernama Meaghan Rice, dilansir dari Yahoo, mengungkapkan bahwa perubahan kebiasaan ini sebenarnya bisa dilatih seperti saat kita rutin memakai make up. Tetapi, proses ini sudah pasti akan membutuhkan waktu sampai akhirnya otak kita terbiasa dengan rutinitas yang baru. Rice menjelaskan, otak akan melakukan kalibrasi ulang terhadap self-image kita yang baru. Ketika kita mulai menyadari bahwa make up bukan lagi bagian yang terpenting dari kehidupan kita, otak secara perlahan menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang baru ini. Selama proses ini, kita bisa membantu otak untuk mencerna kebiasaan baru ini dengan beberapa cara. Seperti, katakan pada diri sendiri, “Aku tetap cantik tanpa make up”, “Aku tetap berarti meskipun tanpa make up”, dan “Aku dinilai bukan dari penampilanku saja”. Tidak hanya bisa membantu otak menanamkan konsep diri yang baru, hal ini juga penting dalam proses kita membangun self-love.  Memberikan waktu istirahat pada kulit wajah dari make up juga bisa membuat kulit menjadi lebih sehat karena berhenti memakai make up bisa membantu membuat kulit bernapas kembali karena terbukanya pori-pori kulit.

 06 Juni 2020

Tips Atasi Nyeri Leher dan Lutut Saat WFH

Sering merasakan nyeri leher dan lutut selama Work From Home (WFH) di masa pandemi virus corona ini? Berikut adalah beberapa gerakan sederhana yang direkomendasikan oleh dr. Michael Triangto dari Slim and Health Sports Therapy yang dilansir dari laman situs liputan6.com. Mengatasi Nyeri Leher Menurut dr. Michael, untuk mengatasi nyeri leher, Wong Coco Family bisa melakukan beberapa peregangan. Dengan posisi duduk, satukan kedua tangan, lalu letakkan di bawah dagu dengan posisi sedikit mendongak kemudian hitung sampai lima hitungan. Dilanjutkan dengan menundukkan kepala dan beri tekanan sedikit di kepala bagian belakang memakai jari tangan, hitung sampai lima hitungan. Selanjutnya, letakkan tangan kanan di bawah dagu lalu dorong kepala memakai tangan untuk menengok ke sebelah kanan dan tahan sampai lima hitungan. Lakukan hal yang sama dengan tangan kiri lalu dilanjutkan dengan menengok ke arah kiri. Kemudian dilanjutkan dengan mendekatkan kepala ke pundak kanan lalu tarik dengan bantuan tangan kanan. Lakukan juga sebaliknya ke sisi kiri dan taruh tangan kiri di kepala. Seluruh gerakan dilakukan dalam lima hitungan untuk bisa membantu meredakan nyeri leher. Meredakan Nyeri Lutut Sementara untuk meredakan lutut, Wong Coco Family harus melakukannya dengan berdiri kemudian letakkan kedua tangan di atas meja. Dilanjutkan dengan membuka kaki lebih lebar dari jarak kedua tangan yang jadi tumpuan. Perlahan turunkan tubuh dengan cara melipat kaki sebelah kanan menjadi hampir 90 derajat. Badan usahakan tetap tegak. Naik ke titik semula dan lakukan hal yang sama dengan kaki kiri. Selamat mencoba dan semoga bisa membantu meredakan rasa nyeri di leher dan lutut yang Wong Coco Family rasakan. Jika rasa nyeri masih terasa, ada baiknya segera berkonsultasi langsung dengan ahli medis.

 06 Juni 2020